BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Melalui pemikiran filsafat, manusia dimungkinkan
dapat melihat kebenaran tentang sesuatu di antara kebenaran-kebenaran yang
lain. Hal ini memungkinkan ia mencoba mengambil segala kemungkinan informasi
(alternatif), di antara alternatif kebenaran yang ada ketika itu. Dalam
filsafat umum ini dapat kita kembangkan apa manfaat dalam mempelajari filsafat
umum dan peran filsafat umum tersebut.
B.
Rumusan
Masalah
1. Apa
manfaat mempelajari filsafat umum?
2. Apa
peran dalam filsafat umum tersebut ?
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Manfaat
Mempelajari Filsafat
Secara umum manfaat mempelajari filsafat adalah untuk
membentuk paradigma berfikir yang dapat dipertanggungjawabkan baik secara
ilmiah maupun secara agama. Paradigma berfikir seseorang sangat mempengaruhi
perilakunya, sehingga penyimpangan-penyimpangan perilaku sesungguhnya lebih
disebabkan oleh kesalahan berfikir.[1]
Secara rinci manfaat mempeajari filsafat adalah :
1. Filsafat
dapat mendukung keimanan seseorang sehingga keberagamaannya masuk akal (logis)
2. Filsafat
membantu membangun keyakinan keagamaan atas dasar yang matang secara
intelektual
3. Filsafat
melatih seseorang untuk berfikir secara tersusun, tertip dan sistematis
4. Filsafat
berguna untuk mempertajam pikiran dan kemampuan analisis
5. Filsafat
dengan berbagai alirannya dapat dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari
6. Filsafat
dapat digunakan sebagai cara pandang dan alat analisis terhadap berbagai
problema hidup
7. Filsafat
dapat membantu mempermudah menyelesaikan permasalahan hidup[2]
8. Dengan
belajar filsafat diharapkan akan dapat menambah ilmu pengetahuan, karena dengan
bertambahnya ilmu pengetahuan akan bertambah pula cakrawala pemikiran. Sehingga
akan dapat membantu menyelesaikan masalah yang selalu kita hadapi dengan cara
yang lebih bijaksana
9. Dasar
semua tindakan adalah ide. Sesungguhnya filfasat di dalamnya memuat ide-ide
yang fundamental. Ide-ide itulah yang akan membawa manusia kearah suatu
kemampuan untuk merentang kesadarannya dalam segala tindakan, sehingga manusia
akan dapat lebih hidup, lebih tanggap (peka) terhadap diri dan lingkungan,
lebih sadar terhadap hak dan kewajiban
10. Dengan
adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kita semakin ditantang
dengan memberikan alternatifnya. Di satu sisi kita berhadapan dengan kemajuan
teknologi beserta dampak negatifnya, perubahan demikian cepatnya, pergeseran
tata nilai, dan akhirnya kita akan semakin jauh dari tata nilai dan moral. Di
sisi lainnya, apabila kita tidak berani menghadapi kemajuan ilmu pengetahuan
dan teknologi, akhirnya kita akan menjadi manusia yang “terbelakang”.[3]
B.
Peran
Filsafat
Dalam
filsafat ada tiga peran yang telah diperankannya itu, yaitu:
a. Pendobrak
Berabad-abad
lamanya intelektualitas manusia tertawan dalam penjara tradisi dan kebiasaan.
Dalam penjara itu, manusia terlena dalam alam mistik yang penuh sesak dengan
hal-hal penuh sesak dengan hal-hal serba rahasia yang terungkap lewat berbagai
mitos dan mite. manusia menerima begitu saja segala penuturan dongeng dan
takhayul tanpa mempersoalkannya lebih lanjut. Orang beranggapan bahwa karena
segala dongeng dan tahayul itu merupakan bagian yang hakiki dari warisan
tradisi nenek moyang, sedang tradisi itu benar dan tak dapat diganggu-gugat,
maka dongeng dan tahayul itu pasti benar dan tak boleh diganggu-gugat.
Keadaan tersebut
berlangsung cukup lama. Kehadiran filsafat telah mendobrak pintu-pintu dan
tembok-tembok tradisi yang begitu tradisi yang begitu sakral dan selama itu tak
boleh diganggut-gugat. Kendati pendobrakan itu membutuhkan waktu yang cukup
panjang, kenyataan sejarah telah membuktikan bahwa filsafat benar-benar telah
berperan selaku pendobrak yang mencengangkan.[4]
b. Pembebas
Filfasat
bukan sekedar mendobrak pintu penjara tradisi dan kebiasaan yang penuh dengan
berbagai mitos dan mite itu, melainkan juga merenggut manusia keluar dari dalam
penjara itu. Filsafat membebaskan manusia dari ketidaktahuan dan kebodohannya.
Filsafat juga membebaskan manusia dari cara berfikir yang tidak kritis yang
membuat manusia mudah menerima kebenaran-kebenaran semu yang menyesatkan.
Secara ringkas dapat dikatakan bahwa filsafat membebaskan manusia dai segala
jenis “penjara” yang hendak mempersempit ruang gerak akal budi manusia.[5]
c. Pembimbing
Filsafat
membebaskan manusia dari cara berfikir yang mistis dan mitis dengan membimbing
manusia untuk berfikir secara rasional. Filsafat membebaskan manusia dari cara
berfikir yang picik dan dangkal dengan membimbing manusia untuk berfikir secara
luas dan lebih mendalam, yakni berfikir secara universal sambil berupaya
mencapai kebenaran dan menemukan esensi suatu permasalahan. Filsafat
membebaskan manusia dari cara berfikir yang tidak teratur dan tidak jernih
dengan membimbing manusia untuk berfikir secara sistematis dan logis. Filsafat
membebaskan manusia dari cara berfikir yang tak utuh dengan membimbing manusia
untuk berfikir secara integral dan koheren.[6]
BAB III
PENUTUP
Simpulan
Secara
umum manfaat mempelajari filsafat adalah untuk membentuk paradigma berfikir
yang dapat dipertanggungjawabkan baik secara ilmiah maupun secara agama.
Secara
rinci manfaat mempeajari filsafat adalah :
1. Filsafat
dapat mendukung keimanan seseorang sehingga keberagamaannya masuk akal (logis)
2. Filsafat
membantu membangun keyakinan keagamaan atas dasar yang matang secara
intelektual
3. Filsafat
melatih seseorang untuk berfikir secara tersusun, tertip dan sistematis
4. Filsafat
berguna untuk mempertajam pikiran dan kemampuan analisis
5. Filsafat
dengan berbagai alirannya dapat dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.
6. Filsafat
dapat digunakan sebagai cara pandang dan alat analisis terhadap berbagai
problema hidup
7. Filsafat
dapat membantu mempermudah menyelesaikan permasalahan hidup
8. Dengan
belajar filsafat diharapkan akan dapat menambah ilmu pengetahuan, karena dengan
bertambahnya ilmu pengetahuan akan bertambah pula cakrawala pemikiran. Sehingga
akan dapat membantu menyelesaikan masalah yang selalu kita hadapi dengan cara
yang lebih bijaksana
Dalam
filsafat ada tiga peran yang telah diperankannya itu, yaitu:
a. Pendobrak
Berabad-abad lamanya intelektualitas
manusia tertawan dalam penjara tradisi dan kebiasaan. Dalam penjara itu,
manusia terlena dalam alam mistik yang penuh sesak dengan hal-hal penuh sesak
dengan hal-hal serba rahasia yang terungkap lewat berbagai mitos dan mite.
manusia menerima begitu saja segala penuturan dongeng dan takhayul tanpa
mempersoalkannya lebih lanjut.
b. Pembebas
Filfasat bukan sekedar mendobrak pintu
penjara tradisi dan kebiasaan yang penuh dengan berbagai mitos dan mite itu,
melainkan juga merenggut manusia keluar dari dalam penjara itu. Filsafat
membebaskan manusia dari ketidaktahuan dan kebodohannya.
c. Pembimbing
Filsafat membebaskan manusia dari cara
berfikir yang mistis dan mitis dengan membimbing manusia untuk berfikir secara
rasional. Filsafat membebaskan manusia dari cara berfikir yang picik dan
dangkal dengan membimbing manusia untuk berfikir secara luas dan lebih
mendalam, yakni berfikir secara universal sambil berupaya mencapai kebenaran
dan menemukan esensi suatu permasalahan.
DAFTAR PUSTAKA
Jan Hendrik Rapar, Pengantar Filsafat, Yogyakarta:
Kanisius, 1996.
Asmoro Achmadi, Filsafat Umum, Jakarta: PT RajaGrafindo
Persada, 2003.
Masduki, Pengantar Filsafat: Pendekatan Sistematika
dan Analitika, Pekanbaru: Suska Press, 2008.
[1]Masduki,
Pengantar Filsafat: Pendekatan
Sistematika dan Analitika, (Pekanbaru: Suska Press, 2008), hlm. 25
[2]Ibid., hlm 25
[3]Asmoro
Achmadi, Filsafat Umum , (Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada, 2003), hlm. 18
[4]Jan
Hendrik Rapar, Pengantar Filsafat,
(Yogyakarta: Kanisius, 1996), hlm. 25
[5]Ibid., hlm. 26
[6]Ibid., hlm. 26-27
No comments:
Post a Comment