Tuesday, 24 December 2013

RITUAL MALAM SATU SYURO

RITUAL SATU SYURO  SEMAH LAUT MASYARAKAT NELAYAN  DUSUN KEMBAR DESA TELUK PAMBANG


A.    Latar Belakang
Agama sebagai unsur penting dalam kebudayaan dan memberikan bentuk dan pikiran, perasaan dan tindakan manusia. Yang mana agama mengembangkan orientasi . dan ego ideal manusia[1]. Agama secara mendasar dapat disebut sebagai suatu sistem keyakinan yang dianut oleh individu, sekelompok atau masyarakat dan mengaplikasikannya serta memberikan respon terhadap apa yang dirasakan dan diyakininya sebagai yang gaib dan suci. Agama sebagai sistem keyakinan dapat menjadi bagian dan inti sari sistem-sistem nilai yang ada dalam kebudayaan dari masyarakat yang bersangkutan dan menjadi pendorong serta mengontrol terhadap tindakan-tindakan para anggota masyarakat untuk berjalan sesuai dengan nilai-nilai ajaran agama. Apabila pengaruh agama sangat kuat terhadap sistem nilai yang ada dalam kebudayaan suatu masyarakat, maka sistem nilai dari kebudayaan tersebut terwujud sebagai simbol suci yang maknanya bersumber pada ajaran agama sebagai kerangka acuannya[2].
Mengungkap persoalan kebudayaan dalam masyarakat nelayan tradisional ini pada dasarnya adalah membicarakan nelayan dalam konteks kehidupan lokal. Secara geografis, masyarakat nelayan adalah masyarakat yang hidup, tumbuh dan berkembang di kawasan pesisir, yakni suatu kawasan transisi antara wilayah   darat dan laut. Sebagai suatu sistem, masyarakat nelayan terdiri atas kategori kategori sosial yang membentuk kesatuan sosial. Mereka juga memiliki sistem nilai  dan   simbol-simbol kebudayaan sebagai referensi perilaku mereka sehari hari. Faktor kebudayaan inilah yang menjadi pembeda antara masyarakat nelayan dengan kelompok sosial lainnya. Sebagian besar masyarakat pesisir, baik langsung   maupun   tidak langsung, menggantungkan kelangsungan hidupnya dari mengelola potensi sumberdaya kelautan[3].
Sebagai  suatu  kesatuan  sosial,  masyarakat  nelayan hidup, tumbuh,  dan berkembang di wilayah pesisir atau wilayah pantai. Dalam konstruksi sosial masyarakat di kawasan pesisir, masyarakat nelayan merupakan bagian dari konstruksi sosial tersebut, meskipun disadari bahwa tidak semua desa-desa di kawasan pesisir memiliki penduduk yang bermata pencaharian sebagai nelayan[4]. Walaupun demikian, di desa-desa pesisir yang sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai nelayan tetap saja kebudayaan  nelayan   berpengaruh   besar   terhadap terbentuknya identitas kebudayaan masyarakat pesisir secara  keseluruhan.
Pengetahuan tradisional nelayan banyak didasari karakteristik konteks fisik lautan yang mengelilinginya. Pengetahuan ini diproduksi secara kultural dan diakumulasi melalui pengalaman dan terus menerus dievalusi dan diciptakan kembali berdasarkan fitur lingkungan laut yang bergerak. Oleh karena itu, wajar jika realitas keyakinan masyakarat nelayan bergantung kepada laut, misalnya, konsepsi tentang adanya kekuatan luar biasa pada laut yang tidak bisa lepas dari kehidupan masyarakat nelayan[5]
Dengan tidak terlepasnya masyarakat nelayan dari lautan, terciptalah Tradisi  dari pengakuan terhadap kekuatan gaib dan alam merupakan sikap yang cukup kuat dalam masyarakat nelayan. Sehingga kepercayaan terhadap kekuatan gaib serta alam tersebut menjadi tradisi yang masih tetap hidup dalam kehidupan mereka[6]. Rritual atau tradisi setempat terlahir menjadi budaya yang perlu diadakan dan menjadi kebutuhan sepritual. untuk menguatkan fisik diperlukan tradisi lokal yang diyakini oleh para nelayan mampu menambah berkah dan menjaga hubungan antara nelayan dan penjaga lautan (gaib). mempercayai ada suatu kekuatan gaib yang tidak terjelaskan oleh akal, tidak mampu mereka visualisasikan, tapi mereka sungguh-sungguh meyakininya dalam hati.
Kehidupan masyarakat pesisir di Dusun Kembar  Desa Teluk Pambang terdapat praktek atau akulturasi budaya, seperti menjalankan ritual di dalam ajaran Islam, namun masih tetap mempercayai keyakinan lokal salah satunya masyarakat pesisir yang berada di dusun kembar Desa Teluk pambang. Berbagai macam acara dapat dilakukan untuk mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas segala nikmat dan karunia yang diperoleh pada masa kehidupan manusia, upacara penyemahan laut adalah salah satu perwujudan ungkapan rasa syukur yang dilakukan oleh Kelompok Nelayan.
Menjalankan kehidupan sebagai seorang nelayan merupakan salah satu ciri khusus bagi kehidupan masyarakat pesisir, yang selalu menghandalkan lautan untuk dijadikan sumber rizki dalam komunitas masyarakat nelayan, demi untuk mencukupi kebutuhan baik primer, maupun sekunder bagi individu maupun masyarakat. Kesulitan menjalani suatu pekerjaan tentu saja tidak terlepas dari kehidupan seorang nelayan, setiap harinya mereka senantiasa siap dengan permainan pasang  dan surutnya air laut.
Untuk mencari rizki atau merasa bersyukur apa yang telah didapatkan hasil yang di peroleh dari lautan di adakan upacara yang berupa penyajenan makana-makanan untuk disedekahkan atau secara tidak langsung memberi  makan terhadap penjaga laut. Ditengah kondisi zaman yang selalu berubah, upacara penyemahan laut atau sedekah laut  ini tetap dipertahankan masyarakat dusun kembar sampai saat ini.
Masyarakat nelayan di Dusun kembar terdiri dari dua agama dan dua suku yang berbeda yakni antara agama budha yang yang bersuku asli atau keperanakan (pernikahan antara suku asli dan cina)  dan agama islam bersukukan melayu mereka beragama islam. Namun agama yang penganutnya lebih banyak  dalam lingkungan masyarakat nelayan tradisional di dusun kembar ini adalah agama islam. Dalam menjalani upacara penyemahan laut yang mendominasi adalah suku melayu yang terlahir sebagai agama islam, merekalah yang telah menjadikan semah laut sebagai budaya atau tradisi setempat yang tiap tahunya dilaksanakan di perairan atau lautan dimana mereka mencari pendapatkan sehari-hari dengan propesi sebagai nelayan tradisional.
Dari uraian diatas penulis tertarik untuk melakukan sebuah penelitian dengan judul Ritual Satu Syuro Semah Laut Masyarakat Nelayan  Dusun Kembar Desa Teluk Pambang


B.     Alasan Pemilihan Judul
Adapun alasan penulis memilih judul tersebut adalah
1.      Untuk mengetahui pelaksanaan dan sekaligus sejauh mana masyarakat mempertahankan Ritual Satu Syuro Nelayan Dusun Kembar Desa Teluk Pambang
2.      Judul ini belum diteliti orang lain.
3.      Permasalahan ini sangat menarik untuk diteliti.
C.    Rumusan masalah
1.      Bagaimana pelaksanaan ritual satu syuro di dusun kembar desa Teluk Pambang
2.      Nilai-nilai apa yang dapat diambil dari  pelaksanaan ritual satu suro bagi masyarakat nelayan dusun kembar
D.    Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1.      Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini  adalah :
a.       Agar dapat mengetahui bagaimana pelaksanaan ritual satu suro masyarakat nelayan dusun kembar desa teluk pambang kc. Bantan kab. Bengkalis
b.      Untuk mengetahui nilai-nilai apa yang terdapat dalam ritual satu suro

2.      Kegunan penelitian
a.       Untuk menambah khazanah ilmu pengetahuan dalam bidang kebudayaan
b.      Untuk bahan Refrensi bagi kaum Intelektual dalam memperdalam kajian ilmu  budaya khususnya mengenai ritual satu Syuro
c.       Untuk melengkapi tugas dan persyaratan guna mendapatkan gelar sarjana pada Jurusan Perbandingan Agama, Fakultas Ushuluddin.
E.     Penegasan Istilah
1.      Ritual adalah serangkaian kegiatan yang dilaksanakan terutama untuk tujuan simbolis. Ritual dilaksanakan berdasarkan suatu agama atau bisa juga berdasarkan tradisi dari suatu komunitas tertentu. Kegiatan-kegiatan dalam ritual biasanya sudah diatur dan ditentukan, dan tidak dapat dilaksanakan secara sembarangan.[7]
Yang dimaksudkan oleh penulis, disini bahwa ritual digunakan sebagai interaksi antara manusia dan penguasa laut, dengan alasan tertentu yang di percayai oleh masyarakat nelayan  akan saling menjaga antara hak dan kewajiban sebagai seorang nelayan
2.      Satu suro: Satu  adalah sebutan atau nama tanggal untuk melaksanakan ritual pada bulan suro. Sedangkan suro ialah nama bulan pertama dalam Kalender Jawa[8]. Satu suro atau suro ini jika dilihat dari kalender islam (hijriah) yakni pada bulan muharam. Namun disini masyarakat nelayan konsisten mengunakan bulan dari persepektif jawa dengan sebutan satu suro sebagai hari yang sesuai untuk melaksanakan ritual atau Semah  laut
3.      Dusun Kembar: adalah salah satu nama daerah atau tempat yang berada di desa teluk pambang, kec.bantan kab. bengkalis yang merupakan objek pelaksanaan ritual satu suro
4.      Semah atau menyemah: semah adalah sajian berupa makanan sedangkan mernyemah: menyajikan semah kepada kepada orang halus dan sebagainya[9].
Sebelum makanan di hanyutkan ke laut lepas terlebih dahulu makanan yang di sajikan oleh penguasa laut ini, di lakukan upacara mendoa yang di pimpin oleh pemangku adat.
5.      Budaya: Kata “Kebudayaan” berasal dari (bahasa sangsekerta) buddhayah yang merupakan bentuk jamak kata kata “budhhhi” yng berarti budi atau akal. Kebudayaan diartikan sebagai “hal-hal yang bersangkutan dengan budhi dan akal”[10].
6.      Masyarakat nelayan tradisional: Secara geografis masyarakat nelayan adalah masyarakat yang hidup, tumbuh dan berkembang di kawasan pesisir, yakni suatu kawasan transisi antara wilayah darat dan laut. Nelayan adalah suatu kelompok masyarakat yang kehidupannya tergantung langsung pada hasil laut, baik dengan cara melakukan penangkapan ataupun budi daya. Mereka pada umumnya tinggal di pinggir pantai, sebuah lingkungan pemukiman yang dekat dengan lokasi kegiatannya[11]Nelayan dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu melayan buruh, nelayan juragan dan nelayan perorangan. Nelayan buruh adalah nelayan yang bekerja dengan alat tangkap milik orang lain. Sebaliknya nelayan juragan adalah nelayan yang memiliki alat tangkap yang dioperasikan oleh orang lain. Sedangkan nelayan perorangan adalah nelayan yang memiliki peralatan tangkap sendiri, dan dalam pengoperasiannya tidak melibatkan orang lain[12].
Jadi yang dimaksud dengan Judul ini adalah: Melakukan upacara penyemahan Laut yang dilaksanakan setiap tahunya bertepatan tanggal 1 dibulan suro bertujuan untuk saling menjaga antara penguasa lautan dan para nelayan. Sehingga adanya kerja sama ini akan mendapatkan manfaat dan keuntungan kedua belah pihak yang bersangkutan.
F.     Kerangka Teoritis Dan Konsep Operasional
1.      Kerangka Teoritis
a.      Kajian Penelitian Terdahulu
Kajian terhadap budaya lokal sebenarnya banyak karya yang telah di tulis oleh peneliti terdahulu diantaranya  yang mendekati penelitian ini ialah sebagai berikut:
1)      Penelitian yang dilakukan oleh Drs, Abu Bakar Mpd
Penelitian mengenai pengaruh joget gong terhadap kehidupan sosial masyarakat desa sode kecamatan Rangsang kabupaten kepulawan meranti. Bahwa joget gong merupakan sebuah gerakan tari dalam rangka memohon keselamatan dan kemurahan memperoleh kehidupan serta dijauhi mara bahaya. Joget gong yang dilakukan oleh masyarakat di desa sode selaku suku akit menganut paham animisme dan dinamisme, melaksanakan ritual dalam kehidupan suku akit merupakan hal yang biasa sebagai sarana penyampayan kepada leluhur mereka dengan cara joget gong.
Sesuai dengan perjalanan waktu joget gong tidak hanya sebuah acara ritual , melainkan bisa dijadikan acara hiburan seperti sepasang antara laki-laki dan perempuan melakukan joget gong, dengan sarat seorang laki-laki membayar atau ada saweranya yang tidak di tentukan, dan ini juga ternyata mendapat sambutan baik bagi masyarakat sode.
2)      Penelitian yang dilakukan oleh Wan Mohd Hasan Bin Wan Mohd
Penelitian teradisi lokal yang berjudul nilai-nlai solidaritas sosial dalam upacara tahun baru cina di daerah kuala Terengganu. Tahun baru atau imlek dalam agama budha  yang merupakan hari perayaan yang di tungu-tungu tentu saja disambut baik bagi penganutnya, namun dalam perayaan ini terdapat keanehan ketika perayaan ini dilakukan bersama-sama dengan agama lain.
 Dengan seiring waktu yang telah berjalan tahun baru imlek yang beretnis cina ini telah melakukan perubahan yang positif dilihat dari kacamata budaya, terbukti ketika  dari setiap kalangan etnis, terutama etnis melayu dan etnis india tamil, ikut merayakan tahun baru etnis cina, ini karena imlek yang dilakukan oleh mereka didakannya rumah terbuka atau open House. Open House yang merupakan program terbaru dalam perayaan imlek bertujuan mengundang sanak saudara seagama bahkan yang berlainan agama.

1.      Teori-teori
1)      Sedekah Laut
Upacara sedekah laut secara khusus ditunjukan kepada Nyi Roro Kidul yang merupakan Dewi penjaga Laut Selatan. Sebagai penjaga dan penguasa laut Selatan, masyarakat menyakini bahwa sang ratu ini perlu diberi sedekah agar ia berkenan dan memberikan berkah. Masyarakat yakin bahwa dengan memberi sedekah laut, Nyi Roro Kidul akan membebaskan para nelayan dan masyarakat pada umumnya dari segala mara bahaya yang mengancamnya, seperti ombak besar dan angin besar, serta di beri ikan yang melimpah[13]. Upacara yang hampir sama ini juga  terjadi oleh masyarakat dusun kembar, jika sedekah laut yang berada di laut selatan yang dilakukan khusus untuk nyi roro kidul, maka sedekah laut atau penyemahan yang dilaksanakan oleh masyarakat nelayan yang ada di dusun kembar ditujukan untuk penguasa laut untuk saling menjaga, antara pemilik (laut) dan pekerja (nelayan), bertujuan untuk mendapatkan hasil yang diharapkan dan berharap tidak mendapat ganguan atau hal-hal yang tidak di ingginkan.
Selain mengharap berkah, sedekah laut juga dilakukan sebagai tanda syukur karena telah diberi keselamatan dan penghasilan yang melimpah berupa tangkapan ikan yang tak pernah habis-habis. Sedekah laut biasanya dilakukan satu kali dalam setahun, dan dilaksanakan dengan sangat meriah. Acara sedekah laut biasanya  hanya dilakukan oleh para nelayan dengan membuat beberapa macam sesajen[14].
Dalam pelaksanaan acara penyemahan atau sedekah laut yang dilakukan oleh masyarakat nelayan dusun kembar tidaklah semeriah yang dilakukan oleh masyarakat nelayan di laut selatan. Masyarakat nelayan dusun kembar hanya membutuhkan sebagian kecil dari masyarakat yang bersedia atau yang di tunjuk  untuk membantu dalam proses pelaksanaan ritual satu suro.
2)      Nilai
Nilai dalam kamus umum bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai sifat-sifat (hal-hal) yang penting atau berguna bagi kemanusiaan[15]. Dalam suatu kebudayaan terkandung nilai-nilai dan norma-norma sosial yang merupakan faktor pendorong bagi manusia untuk bertingkah laku dan mencapai kepuasan tertentu dalam kehidupan sehari-hari. Nilai dan norma senantiasa terkait satu sama lainya, walaupun keduanya dapat dibedakan. Nilai sebagaimana pokok pembicaraan disini dapat dikatakan sebagai ukuran sikap dan perasaan seseorang atau kelompok yang berhubungan dengan keadaan baik buruk, benar salah atau suka tidak suka terhadap suatu obyek, baik matrial ataupun non-matrial[16].
      Dalam buku pengantar sosiologi karangan D.A. Wila Huky (1982) dikatakan bahwa nilai memuaskan manusia dan mengambil bagian dalam usaha pemenuhan kebutuhan-kebutuhan sosial. Nilai yang telah disetujui dan yang telah di terima secara sosial itu menjadi dasar bagi tidakan dan tingkah laku, baik secara pribadi atau grup dan masyarakat secara keseluruhan. Nilai juga meembantu masyarakat agar dapat berfungsi dengan baik. Tanpa suatu sistem nilai masyarakat akan menjadi kacau. Oleh karana itu, sistem nilai sosial dipandang penting oleh masyarakat, khususnya oleh pemeliharaan kemakmuran dan kepuasan sosial bersama[17].
Sistem nilai budaya merupakan tingkat yang paling tinggi dan paling abstrak dari adat-istiadat. Hal ini disebabkan karena nilai budaya merupakan konsep-konsep mengenai sesuatu yang ada dalam alam pikiran sebagaian besar dari masyarakat yang mereka anggap bernilai, berharga, dan penting dalam hidup sehingga dapat berfungsi sebagai suatu pedoman yang memberi arah dan orientasi pada kehidupan para warga masyarakat[18].
Dalam buku Orang Melayu di Riau Pada dasarnya ada 3 sistem nilai yang  cukup dominasi dalam kehidupan melayu di diantaranya adalah Islam, adat, dan Resam (kebiasaan). Dengan demikian, tingkah laku orang melayu dalam situasi kultural keagamaan akan merujuk atau mempertimbangkan norma-norma islam, adat dan resam (kebiasaan). Sistem nilai yang tiga inilah yang amat besar pengaruhnya dalam pembentukan pandangan hidup, sikap dan prilaku mereka[19].
Tata nilai islam di pandang oleh orang melayu dapat memenuhi kebutuhan hidup didunia, serta dapat pula diharapkan untuk menghadapi kematian. Kemudian nilai adat dipandang oleh orang melayu sebagai seperangkat norma berserta sangksinya sebagai hasil rancangan leluhur yang bijak sana masa silam. Sedangkan resam atau Tradisi merupakan tata nilai puak melayu  berakaqr kuat kepada kesejarahan masa lampau. Dalam resam inilah terpelihara nilai-nilai kepercayaan para leluhur. Sehingga membayangkan kepurbaannya. Hubungganya yang kuat dengan masa silam, membuat kadar Animisme-Hinduisme masih membekas. Bekasnya dapat dilihat dalam tata hubungan manusia dengan alam[20]. Seperti yang dilakukan masyarakat nelayan dusun kembar yang masih mempercayai dan memperaktekan pada tiap tahunya untuk melaksanakan upacara ritual satu suro.

2.      Konsep Operasional
Berdasarkan teori-teori yang telah dikemukakan, maka yang menjadi penekanan dalam konsep Oprasional ini  adalah:
a.       Untuk lebih mengetahui ritual satu suro yang dilakukan oleh masyarakat dusun kembar. Semah laut yang dimaksud adalah untuk mengungkapkan rasa sukur atas hasil yang di peroleh ketika mereka berada di perairan (laut), dan berusaha untuk memberikan sebahagian kecil dari hasil yang di peroleh tanda terima kasih masyarakat nelayan untuk penguasa laut, selain dari itu masyarakat nelayan juga  menginginkan keselamatan agar ketika mereka beraktifitas sebagai seorang nelayan terhindar dari hal-hal yang tidak di inginkan.
b.      Untuk mengetahui  nilai-nilai yang terkandung dari ritual satu suro yang dilaksanakan oleh masyarakat nelayan. Nilai yang terkandung didalamnya adalah nilai kebersamaan antar masyarakat nelayan dusun kembar, dan menjunjung tinggi nilai kebudayaan yang telah di wariskan turun temurun.
G. Metode Penelitian
1.      Bentuk penelitian yang digunakan
Metode atau sifat penelitian ini adalah bentuk kualitatif. Penelitian kualitatif adalah riset yang bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis dengan pendekatan induktif. Proses dan makna (perspektif subyek) lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif. Landasan teori dimanfaatkan sebagai pemandu agar fokus penelitian sesuai dengan fakta di lapangan. Selain itu landasan teori juga bermanfaat untuk memberikan gambaran umum tentang latar penelitian dan sebagai bahan pembahasan hasil penelitian[21]
2.      Lokasi Penelitian
Dalam penelitian ritual satu suro ini penulis telah  mengambil lokasi di Dusun Kembar desa Teluk Pambang kec. Bantan Kb. Bengkalis
3.      Subjek dan Objek Penelitian
a.       Subjek
Adapun yang menjadi subjek dalam penelitian ini adalah tokoh pemuka adat dan para pendamping dalam pelaksanaan ritual Satu Suro Dusun Kembar desa Teluk Pambang kec. Bantan Kb. Bengkalis
b.      Objek
Sedangkan yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah pelaksanaan Ritual Satu Suro Dusun Kembar desa Teluk Pambang kec. Bantan Kb. Bengkalis
4.      Populasi dan Sampel
     a. Populasi
             populasi berarti jumlah penghuni pada satuan tertentu. Dalam penelitian ini yang menjadi populasinya adalah ketua pemangku adat dan rombongan bapak-bapak yang mengikuti acara ritual Satu Suro oleh karena jumla populasi dalam penelitian ini tidak menentu (sedikit) maka penulis mengambil seluruh populasi[22].
 b. Sampel
Yang menjadi sample dalam penelitian di sini yaitu keseluruhan dari populasi. Sehingga penelitian ini berbentuk populasi sampling atau total sampling
5.      Teknik Pengumpulan Data
a.       Wawancara
Wawancara (bahasa Inggris: interview) merupakan percakapan antara dua orang atau lebih dan berlangsung antara narasumber dan pewawancara[23]. Dengan mengunakan metode wawancara ini diharapkan dapat membantu peneliti mendapatkan informasi yang lebih palid dan akurat. Adapun sebagai informan masalah yang diteliti adalah merupakah tokoh pemangku adat dan juga dari individu-individu yang terkait dalam acara ritual satu suro.
b.      Observasi
Obsevasi ialah metode atau cara-cara yang menganalisis dan mengadakan pencatatan secara sistematis mengenai tingkah laku dengan melihat atau mengamati individu atau kelompok secara langsung[24]. Pengamatan mengenai pelaksanaan dan harapan masyarakat nelayaan dalam menjalani sebelum dan setelah  diadakan ritual satu suro semah laut di di dusun kembar desa teluk pambang. Disamping itu juga penulis tidak mengabaikan pengumpulan data dengan mengunakan angket yang di sebarkan kepada responden.
5. Teknik Analisa Data
Teknik analisa data bertujuan untuk menganalisa data yang sudah terkumpul dalam penelitian ini, setelah data yang berasal dari lapangan sudah tekumpul dan di susun secara sistimatis, maka langakah selanjutnya, penulis akan menganalisa data tersebut, kemudian data yang akan di bagi menjadi dua kelompok yaitu data kualitataif  yang di beri gambaran dalam bentuk kata-kata atau kalimat. Sedangkan data kuantitatif dalam bentuk angka-angka yang di persentasekan, selanjutnya di tranformasikan atau di ubah dalam bentuk kata-kata setelah mendapat hasil akhir akan di kualitatifkan kembali.






H. Sistimatika Penulisan
Untuk penulisan penelitian ini, maka penulis menetapkan sistimatika untuk memudahkan para pembaca dalam menelaah serta memahami penelitian ini kedalam Lima Bab yaitu :
BAB I                         :PENDAHULUAN
Yang terdiri dari ; Latar belakang, alasan pemilian judul, penegasan istilah, permasalahan, tujuan dan pengunaan penelian, Tinjaun Pustaka dan konsep Operasional, metode penelitian, sistematika penulisan,.
BAB II            : GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
Gambaran umum tentang lokasi penelitian yang terdiri dari sejarah semah laut dusun kembar desa teluk pambang kec.Bantan kab. Bengkalis, geograpi dan demograpi, sosial budaya, ekonomi, politik dan agama.
BAB III          : PENYAJIAN DATA
Penyajian data yang berisi tinjawan terhadap bentuk dan pelaksanaan semah laut dusun kembar desa teluk pambang kec.Bantan kab. Bengkalis.



BAB IV          : ANALISA DATA
Analisi data yang berisi tinjawan mengenai nilai-nilai yang terkandung dalam ritual satu suro semah laut masyarakat nelayan dusun kembar desa teluk pambang kec.Bantan kab. Bengkalis.
BAB  V           : PENUTUP
Terdiri dari : Kesimpulan dan saran









No comments:

Post a Comment