RITUAL SATU SYURO SEMAH LAUT MASYARAKAT NELAYAN DUSUN KEMBAR DESA TELUK PAMBANG
A. Latar
Belakang
Agama
sebagai unsur penting dalam kebudayaan dan
memberikan bentuk dan pikiran, perasaan dan tindakan manusia. Yang mana agama
mengembangkan orientasi . dan ego ideal manusia[1].
Agama secara mendasar dapat disebut sebagai suatu sistem keyakinan yang dianut
oleh individu, sekelompok atau masyarakat dan mengaplikasikannya serta
memberikan respon terhadap apa yang dirasakan dan diyakininya sebagai yang gaib
dan suci. Agama sebagai sistem keyakinan dapat menjadi bagian dan inti sari
sistem-sistem nilai yang ada dalam kebudayaan dari masyarakat yang bersangkutan
dan menjadi pendorong serta mengontrol terhadap tindakan-tindakan para anggota
masyarakat untuk berjalan sesuai dengan nilai-nilai ajaran agama. Apabila
pengaruh agama sangat kuat terhadap sistem nilai yang ada dalam kebudayaan
suatu masyarakat, maka sistem nilai dari kebudayaan tersebut terwujud sebagai
simbol suci yang maknanya bersumber pada ajaran agama sebagai kerangka acuannya[2].
Mengungkap
persoalan kebudayaan dalam masyarakat nelayan tradisional ini pada dasarnya
adalah membicarakan nelayan dalam konteks kehidupan lokal. Secara geografis, masyarakat nelayan adalah masyarakat
yang hidup, tumbuh dan berkembang di kawasan pesisir, yakni suatu kawasan
transisi antara wilayah darat dan laut.
Sebagai suatu sistem, masyarakat nelayan terdiri atas kategori kategori sosial
yang membentuk kesatuan sosial. Mereka juga memiliki sistem nilai dan
simbol-simbol kebudayaan sebagai referensi perilaku mereka sehari hari.
Faktor kebudayaan inilah yang menjadi pembeda antara masyarakat nelayan dengan kelompok
sosial lainnya. Sebagian besar masyarakat pesisir, baik langsung maupun
tidak langsung, menggantungkan kelangsungan hidupnya dari mengelola potensi
sumberdaya kelautan[3].
Sebagai suatu kesatuan
sosial, masyarakat nelayan hidup, tumbuh, dan berkembang di wilayah pesisir atau
wilayah pantai. Dalam konstruksi sosial masyarakat di kawasan pesisir, masyarakat
nelayan merupakan bagian dari konstruksi sosial tersebut, meskipun disadari
bahwa tidak semua desa-desa di kawasan pesisir memiliki penduduk yang bermata
pencaharian sebagai nelayan[4].
Walaupun demikian, di desa-desa pesisir yang sebagian besar penduduknya bermata
pencaharian sebagai nelayan tetap saja kebudayaan nelayan
berpengaruh besar
terhadap terbentuknya identitas kebudayaan masyarakat pesisir
secara keseluruhan.
Pengetahuan tradisional nelayan
banyak didasari karakteristik konteks fisik lautan yang mengelilinginya. Pengetahuan
ini diproduksi secara kultural dan diakumulasi melalui pengalaman dan terus
menerus dievalusi dan diciptakan kembali berdasarkan fitur lingkungan laut yang
bergerak. Oleh karena itu, wajar jika realitas keyakinan masyakarat nelayan
bergantung kepada laut, misalnya, konsepsi tentang adanya kekuatan luar biasa
pada laut yang tidak bisa lepas dari kehidupan masyarakat nelayan[5]
Dengan tidak terlepasnya masyarakat
nelayan dari lautan, terciptalah Tradisi dari pengakuan terhadap kekuatan gaib dan alam
merupakan sikap yang cukup kuat dalam masyarakat nelayan. Sehingga kepercayaan
terhadap kekuatan gaib serta alam tersebut menjadi tradisi yang masih tetap
hidup dalam kehidupan mereka[6].
Rritual atau tradisi setempat terlahir menjadi budaya yang perlu diadakan dan
menjadi kebutuhan sepritual. untuk menguatkan fisik diperlukan tradisi lokal
yang diyakini oleh para nelayan mampu menambah berkah dan menjaga hubungan
antara nelayan dan penjaga lautan (gaib). mempercayai ada suatu kekuatan gaib
yang tidak terjelaskan oleh akal, tidak mampu mereka visualisasikan, tapi
mereka sungguh-sungguh meyakininya dalam hati.
Kehidupan
masyarakat pesisir di Dusun Kembar Desa
Teluk Pambang terdapat praktek atau akulturasi budaya, seperti menjalankan
ritual di dalam ajaran Islam, namun masih tetap mempercayai keyakinan lokal
salah satunya masyarakat pesisir yang berada di dusun kembar Desa Teluk pambang. Berbagai macam
acara dapat dilakukan untuk mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa,
atas segala nikmat dan karunia yang diperoleh pada masa kehidupan manusia, upacara
penyemahan laut adalah salah satu perwujudan ungkapan rasa syukur yang
dilakukan oleh Kelompok Nelayan.
Menjalankan
kehidupan sebagai seorang nelayan merupakan salah satu ciri khusus bagi
kehidupan masyarakat pesisir, yang selalu menghandalkan lautan untuk dijadikan
sumber rizki dalam komunitas masyarakat nelayan, demi untuk mencukupi kebutuhan
baik primer, maupun sekunder bagi individu maupun masyarakat. Kesulitan
menjalani suatu pekerjaan tentu saja tidak terlepas dari kehidupan seorang
nelayan, setiap harinya mereka senantiasa siap dengan permainan pasang dan surutnya air laut.
Untuk
mencari rizki atau merasa bersyukur apa yang telah didapatkan hasil yang di
peroleh dari lautan di adakan upacara yang berupa penyajenan makana-makanan
untuk disedekahkan atau secara tidak langsung memberi makan terhadap penjaga laut. Ditengah kondisi
zaman yang selalu berubah, upacara penyemahan laut atau sedekah laut ini tetap dipertahankan masyarakat dusun
kembar sampai saat ini.
Masyarakat
nelayan di Dusun kembar terdiri dari dua agama dan dua suku yang berbeda yakni
antara agama budha yang yang bersuku asli atau keperanakan (pernikahan antara
suku asli dan cina) dan agama islam bersukukan
melayu mereka beragama islam. Namun agama yang penganutnya lebih banyak dalam lingkungan masyarakat nelayan
tradisional di dusun kembar ini adalah agama islam. Dalam menjalani upacara
penyemahan laut yang mendominasi adalah suku melayu yang terlahir sebagai agama
islam, merekalah yang telah menjadikan semah laut sebagai budaya atau tradisi
setempat yang tiap tahunya dilaksanakan di perairan atau lautan dimana mereka
mencari pendapatkan sehari-hari dengan propesi sebagai nelayan tradisional.
Dari
uraian diatas penulis tertarik untuk melakukan sebuah penelitian dengan judul Ritual
Satu Syuro Semah Laut Masyarakat Nelayan
Dusun Kembar Desa Teluk Pambang
B. Alasan
Pemilihan Judul
Adapun alasan penulis memilih judul tersebut adalah
1.
Untuk
mengetahui pelaksanaan dan sekaligus sejauh mana masyarakat mempertahankan Ritual Satu Syuro Nelayan Dusun Kembar Desa
Teluk Pambang
2. Judul ini belum diteliti orang lain.
3. Permasalahan ini sangat menarik untuk
diteliti.
C.
Rumusan masalah
1.
Bagaimana pelaksanaan ritual satu syuro di dusun
kembar desa Teluk Pambang
2.
Nilai-nilai apa yang dapat diambil dari pelaksanaan ritual satu suro bagi masyarakat
nelayan dusun kembar
D.
Tujuan
dan Kegunaan Penelitian
1.
Tujuan Penelitian
Adapun
yang menjadi tujuan penelitian ini
adalah :
a. Agar dapat mengetahui bagaimana
pelaksanaan ritual satu suro masyarakat nelayan dusun kembar desa teluk pambang
kc. Bantan kab. Bengkalis
b. Untuk mengetahui nilai-nilai apa yang
terdapat dalam ritual satu suro
2.
Kegunan penelitian
a.
Untuk
menambah khazanah ilmu pengetahuan dalam bidang kebudayaan
b.
Untuk bahan Refrensi bagi kaum Intelektual dalam
memperdalam kajian ilmu budaya khususnya
mengenai ritual satu Syuro
c.
Untuk melengkapi tugas dan persyaratan guna mendapatkan
gelar sarjana pada Jurusan Perbandingan Agama, Fakultas Ushuluddin.
E.
Penegasan Istilah
1. Ritual adalah
serangkaian kegiatan yang dilaksanakan terutama untuk tujuan simbolis. Ritual dilaksanakan berdasarkan suatu agama atau bisa juga berdasarkan tradisi dari suatu komunitas tertentu. Kegiatan-kegiatan dalam ritual biasanya sudah
diatur dan ditentukan, dan tidak dapat dilaksanakan secara sembarangan.[7]
Yang dimaksudkan oleh
penulis, disini bahwa ritual digunakan sebagai interaksi antara manusia dan
penguasa laut, dengan alasan tertentu yang di percayai oleh masyarakat
nelayan akan saling menjaga antara hak
dan kewajiban sebagai seorang nelayan
2. Satu suro: Satu adalah sebutan atau nama tanggal untuk
melaksanakan ritual pada bulan suro. Sedangkan suro ialah nama bulan pertama dalam Kalender Jawa[8].
Satu suro atau suro ini jika dilihat dari
kalender islam (hijriah) yakni pada bulan muharam. Namun disini masyarakat
nelayan konsisten mengunakan bulan dari persepektif jawa dengan sebutan satu
suro sebagai hari yang sesuai untuk melaksanakan ritual atau Semah laut
3. Dusun Kembar: adalah salah satu nama
daerah atau tempat yang berada di desa teluk pambang, kec.bantan kab. bengkalis
yang merupakan objek pelaksanaan ritual satu suro
4. Semah atau menyemah:
semah adalah sajian berupa makanan sedangkan mernyemah: menyajikan semah kepada
kepada orang halus dan sebagainya[9].
Sebelum makanan di
hanyutkan ke laut lepas terlebih dahulu makanan yang di sajikan oleh penguasa
laut ini, di lakukan upacara mendoa yang di pimpin oleh pemangku adat.
5. Budaya: Kata “Kebudayaan” berasal dari
(bahasa sangsekerta) buddhayah yang
merupakan bentuk jamak kata kata “budhhhi” yng berarti budi atau akal.
Kebudayaan diartikan sebagai “hal-hal yang bersangkutan dengan budhi dan akal”[10].
6. Masyarakat nelayan tradisional: Secara
geografis masyarakat nelayan adalah masyarakat yang hidup, tumbuh dan
berkembang di kawasan pesisir, yakni suatu kawasan transisi antara wilayah
darat dan laut. Nelayan adalah suatu kelompok masyarakat yang kehidupannya
tergantung langsung pada hasil laut, baik dengan cara melakukan penangkapan
ataupun budi daya. Mereka pada umumnya tinggal di pinggir pantai, sebuah
lingkungan pemukiman yang dekat dengan lokasi kegiatannya[11]Nelayan
dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu melayan buruh, nelayan juragan dan nelayan
perorangan. Nelayan buruh adalah nelayan yang bekerja dengan alat tangkap milik
orang lain. Sebaliknya nelayan juragan adalah nelayan yang memiliki alat
tangkap yang dioperasikan oleh orang lain. Sedangkan nelayan perorangan adalah
nelayan yang memiliki peralatan tangkap sendiri, dan dalam pengoperasiannya
tidak melibatkan orang lain[12].
Jadi yang dimaksud dengan Judul ini
adalah: Melakukan upacara penyemahan Laut yang dilaksanakan setiap tahunya
bertepatan tanggal 1 dibulan suro bertujuan untuk saling menjaga antara
penguasa lautan dan para nelayan. Sehingga adanya kerja sama ini akan
mendapatkan manfaat dan keuntungan kedua belah pihak yang bersangkutan.
F.
Kerangka Teoritis Dan Konsep Operasional
1.
Kerangka Teoritis
a.
Kajian Penelitian Terdahulu
Kajian
terhadap budaya lokal sebenarnya banyak karya yang telah di tulis oleh peneliti
terdahulu diantaranya yang mendekati
penelitian ini ialah sebagai berikut:
1) Penelitian yang dilakukan oleh Drs, Abu
Bakar Mpd
Penelitian mengenai pengaruh joget
gong terhadap kehidupan sosial masyarakat desa sode kecamatan Rangsang
kabupaten kepulawan meranti. Bahwa joget gong merupakan sebuah gerakan tari
dalam rangka memohon keselamatan dan kemurahan memperoleh kehidupan serta
dijauhi mara bahaya. Joget gong yang dilakukan oleh masyarakat di desa sode
selaku suku akit menganut paham animisme dan dinamisme, melaksanakan ritual
dalam kehidupan suku akit merupakan hal yang biasa sebagai sarana penyampayan
kepada leluhur mereka dengan cara joget gong.
Sesuai dengan perjalanan waktu
joget gong tidak hanya sebuah acara ritual , melainkan bisa dijadikan acara
hiburan seperti sepasang antara laki-laki dan perempuan melakukan joget gong,
dengan sarat seorang laki-laki membayar atau ada saweranya yang tidak di
tentukan, dan ini juga ternyata mendapat sambutan baik bagi masyarakat sode.
2) Penelitian yang dilakukan oleh Wan Mohd
Hasan Bin Wan Mohd
Penelitian
teradisi lokal yang berjudul nilai-nlai solidaritas sosial dalam upacara tahun
baru cina di daerah kuala Terengganu. Tahun baru atau imlek dalam agama budha yang merupakan hari perayaan yang di
tungu-tungu tentu saja disambut baik bagi penganutnya, namun dalam perayaan ini
terdapat keanehan ketika perayaan ini dilakukan bersama-sama dengan agama lain.
Dengan seiring waktu yang telah berjalan tahun
baru imlek yang beretnis cina ini telah melakukan perubahan yang positif
dilihat dari kacamata budaya, terbukti ketika
dari setiap kalangan etnis, terutama etnis melayu dan etnis india tamil,
ikut merayakan tahun baru etnis cina, ini karena imlek yang dilakukan oleh
mereka didakannya rumah terbuka atau open House. Open House yang merupakan
program terbaru dalam perayaan imlek bertujuan mengundang sanak saudara seagama
bahkan yang berlainan agama.
1.
Teori-teori
1)
Sedekah Laut
Upacara sedekah
laut secara khusus ditunjukan kepada Nyi Roro Kidul yang merupakan Dewi penjaga
Laut Selatan. Sebagai penjaga dan penguasa laut Selatan, masyarakat menyakini
bahwa sang ratu ini perlu diberi sedekah agar ia berkenan dan memberikan
berkah. Masyarakat yakin bahwa dengan memberi sedekah laut, Nyi Roro Kidul akan
membebaskan para nelayan dan masyarakat pada umumnya dari segala mara bahaya
yang mengancamnya, seperti ombak besar dan angin besar, serta di beri ikan yang
melimpah[13]. Upacara
yang hampir sama ini juga terjadi oleh
masyarakat dusun kembar, jika sedekah laut yang berada di laut selatan yang
dilakukan khusus untuk nyi roro kidul, maka sedekah laut atau penyemahan yang
dilaksanakan oleh masyarakat nelayan yang ada di dusun kembar ditujukan untuk
penguasa laut untuk saling menjaga, antara pemilik (laut) dan pekerja
(nelayan), bertujuan untuk mendapatkan hasil yang diharapkan dan berharap tidak
mendapat ganguan atau hal-hal yang tidak di ingginkan.
Selain mengharap
berkah, sedekah laut juga dilakukan sebagai tanda syukur karena telah diberi
keselamatan dan penghasilan yang melimpah berupa tangkapan ikan yang tak pernah
habis-habis. Sedekah laut biasanya dilakukan satu kali dalam setahun, dan
dilaksanakan dengan sangat meriah. Acara sedekah laut biasanya hanya dilakukan oleh para nelayan dengan
membuat beberapa macam sesajen[14].
Dalam pelaksanaan acara penyemahan atau sedekah laut yang
dilakukan oleh masyarakat nelayan dusun kembar tidaklah semeriah yang dilakukan
oleh masyarakat nelayan di laut selatan. Masyarakat nelayan dusun kembar hanya
membutuhkan sebagian kecil dari masyarakat yang bersedia atau yang di
tunjuk untuk membantu dalam proses
pelaksanaan ritual satu suro.
2)
Nilai
Nilai
dalam kamus umum bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai sifat-sifat (hal-hal)
yang penting atau berguna bagi kemanusiaan[15].
Dalam suatu kebudayaan terkandung nilai-nilai dan
norma-norma sosial yang merupakan faktor pendorong bagi manusia untuk
bertingkah laku dan mencapai kepuasan tertentu dalam kehidupan sehari-hari. Nilai
dan norma senantiasa terkait satu sama lainya, walaupun keduanya dapat
dibedakan. Nilai sebagaimana pokok pembicaraan disini dapat dikatakan sebagai
ukuran sikap dan perasaan seseorang atau kelompok yang berhubungan dengan
keadaan baik buruk, benar salah atau suka tidak suka terhadap suatu obyek, baik
matrial ataupun non-matrial[16].
Dalam
buku pengantar sosiologi karangan D.A. Wila Huky (1982) dikatakan bahwa nilai
memuaskan manusia dan mengambil bagian dalam usaha pemenuhan
kebutuhan-kebutuhan sosial. Nilai yang telah disetujui dan yang telah di terima
secara sosial itu menjadi dasar bagi tidakan dan tingkah laku, baik secara
pribadi atau grup dan masyarakat secara keseluruhan. Nilai juga meembantu masyarakat
agar dapat berfungsi dengan baik. Tanpa suatu sistem nilai masyarakat akan
menjadi kacau. Oleh karana itu, sistem nilai sosial dipandang penting oleh
masyarakat, khususnya oleh pemeliharaan kemakmuran dan kepuasan sosial bersama[17].
Sistem
nilai budaya merupakan tingkat yang paling tinggi dan paling abstrak dari
adat-istiadat. Hal ini disebabkan karena nilai budaya merupakan konsep-konsep
mengenai sesuatu yang ada dalam alam pikiran sebagaian besar dari masyarakat
yang mereka anggap bernilai, berharga, dan penting dalam hidup sehingga dapat
berfungsi sebagai suatu pedoman yang memberi arah dan orientasi pada kehidupan
para warga masyarakat[18].
Dalam buku Orang Melayu di Riau Pada dasarnya ada 3 sistem nilai yang cukup dominasi dalam kehidupan melayu di diantaranya
adalah Islam, adat, dan Resam (kebiasaan). Dengan demikian, tingkah laku orang
melayu dalam situasi kultural keagamaan akan merujuk atau mempertimbangkan
norma-norma islam, adat dan resam (kebiasaan). Sistem nilai yang tiga inilah
yang amat besar pengaruhnya dalam pembentukan pandangan hidup, sikap dan
prilaku mereka[19].
Tata
nilai islam di pandang oleh orang melayu dapat memenuhi kebutuhan hidup
didunia, serta dapat pula diharapkan untuk menghadapi kematian. Kemudian nilai
adat dipandang oleh orang melayu sebagai seperangkat norma berserta sangksinya
sebagai hasil rancangan leluhur yang bijak sana masa silam. Sedangkan resam
atau Tradisi merupakan tata nilai puak melayu
berakaqr kuat kepada kesejarahan masa lampau. Dalam resam inilah
terpelihara nilai-nilai kepercayaan para leluhur. Sehingga membayangkan
kepurbaannya. Hubungganya yang kuat dengan masa silam, membuat kadar
Animisme-Hinduisme masih membekas. Bekasnya dapat dilihat dalam tata hubungan
manusia dengan alam[20].
Seperti yang dilakukan masyarakat nelayan dusun kembar yang masih mempercayai
dan memperaktekan pada tiap tahunya untuk melaksanakan upacara ritual satu
suro.
2.
Konsep Operasional
Berdasarkan
teori-teori yang telah dikemukakan, maka yang menjadi penekanan dalam konsep
Oprasional ini adalah:
a. Untuk lebih mengetahui ritual satu suro
yang dilakukan oleh masyarakat dusun kembar. Semah laut yang dimaksud adalah
untuk mengungkapkan rasa sukur atas hasil yang di peroleh ketika mereka berada
di perairan (laut), dan berusaha untuk memberikan sebahagian kecil dari hasil
yang di peroleh tanda terima kasih masyarakat nelayan untuk penguasa laut, selain
dari itu masyarakat nelayan juga
menginginkan keselamatan agar ketika mereka beraktifitas sebagai seorang
nelayan terhindar dari hal-hal yang tidak di inginkan.
b. Untuk mengetahui nilai-nilai yang terkandung dari ritual satu
suro yang dilaksanakan oleh masyarakat nelayan. Nilai yang terkandung
didalamnya adalah nilai kebersamaan antar masyarakat nelayan dusun kembar, dan
menjunjung tinggi nilai kebudayaan yang telah di wariskan turun temurun.
G. Metode Penelitian
1.
Bentuk penelitian yang digunakan
Metode
atau sifat penelitian ini adalah bentuk kualitatif. Penelitian kualitatif adalah riset
yang bersifat deskriptif
dan cenderung menggunakan analisis dengan pendekatan induktif.
Proses dan makna (perspektif subyek) lebih ditonjolkan dalam penelitian
kualitatif. Landasan teori
dimanfaatkan sebagai pemandu agar fokus penelitian sesuai dengan fakta
di lapangan. Selain itu landasan teori juga bermanfaat untuk memberikan
gambaran umum tentang latar penelitian dan sebagai bahan pembahasan hasil
penelitian[21].
2.
Lokasi Penelitian
Dalam penelitian ritual satu suro ini penulis telah mengambil lokasi di Dusun Kembar desa Teluk
Pambang kec. Bantan Kb. Bengkalis
3.
Subjek dan Objek Penelitian
a. Subjek
Adapun
yang menjadi subjek dalam penelitian ini adalah tokoh pemuka adat dan para
pendamping dalam pelaksanaan ritual Satu Suro Dusun Kembar desa Teluk Pambang
kec. Bantan Kb. Bengkalis
b. Objek
Sedangkan
yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah pelaksanaan Ritual Satu Suro
Dusun Kembar desa Teluk Pambang kec. Bantan Kb. Bengkalis
4.
Populasi dan Sampel
a. Populasi
populasi berarti jumlah penghuni pada satuan
tertentu. Dalam penelitian ini yang menjadi populasinya adalah ketua pemangku
adat dan rombongan bapak-bapak yang mengikuti acara ritual Satu Suro oleh
karena jumla populasi dalam penelitian ini tidak menentu (sedikit) maka penulis
mengambil seluruh populasi[22].
b. Sampel
Yang menjadi
sample dalam penelitian di sini yaitu keseluruhan dari populasi. Sehingga
penelitian ini berbentuk populasi sampling atau total sampling
5.
Teknik Pengumpulan Data
a. Wawancara
Wawancara (bahasa Inggris: interview)
merupakan percakapan antara dua orang atau lebih dan berlangsung antara
narasumber dan pewawancara[23].
Dengan mengunakan metode wawancara ini diharapkan dapat membantu peneliti
mendapatkan informasi yang lebih palid dan akurat. Adapun sebagai informan
masalah yang diteliti adalah merupakah tokoh pemangku adat dan juga dari
individu-individu yang terkait dalam acara ritual satu suro.
b. Observasi
Obsevasi ialah metode
atau cara-cara yang menganalisis dan mengadakan pencatatan secara sistematis
mengenai tingkah laku dengan melihat atau mengamati individu atau kelompok
secara langsung[24].
Pengamatan mengenai pelaksanaan dan harapan masyarakat nelayaan dalam menjalani
sebelum dan setelah diadakan ritual satu
suro semah laut di di dusun kembar desa teluk pambang. Disamping itu juga
penulis tidak mengabaikan pengumpulan data dengan mengunakan angket yang di
sebarkan kepada responden.
5. Teknik Analisa Data
Teknik analisa data bertujuan untuk menganalisa data
yang sudah terkumpul dalam penelitian ini, setelah data yang berasal dari
lapangan sudah tekumpul dan di susun secara sistimatis, maka langakah
selanjutnya, penulis akan menganalisa data tersebut, kemudian data yang akan di
bagi menjadi dua kelompok yaitu data kualitataif yang di beri gambaran dalam bentuk kata-kata
atau kalimat. Sedangkan data kuantitatif dalam bentuk angka-angka yang di
persentasekan, selanjutnya di tranformasikan atau di ubah dalam bentuk
kata-kata setelah mendapat hasil akhir akan di kualitatifkan kembali.
H. Sistimatika
Penulisan
Untuk penulisan penelitian ini, maka penulis
menetapkan sistimatika untuk memudahkan para pembaca dalam menelaah serta
memahami penelitian ini kedalam Lima Bab yaitu :
BAB I :PENDAHULUAN
Yang
terdiri dari ; Latar belakang, alasan pemilian judul, penegasan istilah,
permasalahan, tujuan dan pengunaan penelian, Tinjaun Pustaka dan konsep
Operasional, metode penelitian, sistematika penulisan,.
BAB II : GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
Gambaran umum tentang lokasi penelitian yang terdiri
dari sejarah semah laut dusun kembar desa teluk pambang kec.Bantan kab.
Bengkalis, geograpi dan demograpi, sosial budaya, ekonomi, politik dan agama.
BAB III : PENYAJIAN DATA
Penyajian data
yang berisi tinjawan terhadap bentuk dan pelaksanaan semah laut dusun kembar
desa teluk pambang kec.Bantan kab. Bengkalis.
BAB
IV : ANALISA DATA
Analisi data yang
berisi tinjawan mengenai nilai-nilai yang terkandung dalam ritual satu suro
semah laut masyarakat nelayan dusun kembar desa teluk pambang kec.Bantan kab.
Bengkalis.
BAB V :
PENUTUP
Terdiri dari : Kesimpulan dan saran

No comments:
Post a Comment