MAKALAH TERAPI REALITAS
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Manusia adalah makhluk
yang penuh dengan masalah. Tiada seorang pun hidup di dunia ini tanpa suatu
masalah, baik dengan diri sendiri maupun orang lain. Manusia yang baik adalah
manusia yang mampu keluar dari setiap permasalahan hidupnya.
Manusia yang mampu
menyesuaikan diri dengan realitas yang ada dan memiliki identitas adalah
manusia yang dapat berkembang dengan baik dan sehat. Untuk membantu manusia
keluar dari masalahnya dan memperoleh identitas diperlukan suatu terapi.
Terapi realitas adalah
suatu sistem yang difokuskan pada tingkah laku sekarang. Terapis berfungsi
sebagai guru dan model serta mengonfrontasikan klien dengan cara-cara yang bisa
membantu klien menghadapi kenyataan dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar
tanpa merugikan dirinya sendiri ataupun orang lain. Tujuan terapi ini ialah
membantu seseorang untuk mencapai otonomi.
Di balik semua itu,
banyak manusia yang masih belum mencapai identitas keberhasilannya. Mereka
masih belum dapat mencapai kebutuhan dasar psikologisnya, yaitu kebutuhan untuk
mencintai dan dicintai serta kebutuhan untuk merasakan bahwa Ia berguna bagi
diri sendiri maupun orang lain.
B. Rumusan Masalah
Beberapa rumusan
masalah yang dibahas dalam makalah ini antara lain sebagai berikut:
1. Apa pengertian terapi realitas?
2. Bagaimana konsep kunci kepribadian menurut terapi realitas?
3. Apa ciri-ciri dari terapi realitas?
4. Bagaimana teknik konseling dari terapi realitas?
5. Apa peran konselor dalam terapi realitas?
6. Apa tujuan terapi realitas?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Biografi Tokoh
William Glasser adalah seorang
psikiater yang mengembangkan konseling realitas pada tahun 1950-an. Glasser
mengembangkan teori ini karena merasa tidak puas dengan praktek psikiater yang
telah ada dan dia mempertanyakan dasar-dasar keyakinan terapi yang berorientasi
kepada Freudian.
Glasser dilahirkan pada
tahun 1925 dan dibesarkan di Cleveland, Ohio. Pada mulanya Glasser belajar
dibidang teknik kimia di Universitas Case Institute Of Technology. Pada
usia 19 tahun ia dilaporkan sebagai penderita shyness atau rasa malu
yang akut
Pada perkembangan
selanjutnya Glasser tertarik studi psikologi, kemudian dia mengambil program
psikologi klinis pada Western Reserve University dan membutuhkan waktu
tiga tahun untuk meraih gelar Ph.D akhirnya Glasser menekuni profesinya dengan
menetapkan diri sebagai psikiater.
Setelah beberapa waktu
melakukan praktek pribadi dibidang klinis Glasser mendapatkan kepercayaan dari California
Youth Authority sebagai kepala psikiater di Ventura School For Girl.
Mulai saat itulah Glasser melakukan eksperimen tentang prinsip dan teknik realiti
terapi.
Pada tahun 1969 Glasser
berhenti bekerja pada Ventura dan mulai saat itu mendirikan Institute For
Reality Theraphy Di Brent Wood. Selanjutnya menyelenggarakan educator
treaning centre yang bertujuan meneliti dan mengembangkan program-program untuk
mencegah kegagalan sekolah. Banyak pihak yang dilatih dalam lembaganya ini
antara lain: perawat, pengacara, dokter, polisi, psikolog, pekerja sosial dan
guru.
B. Hakikat Manusia
Terapi realiatas berlandaskan
premis bahwa ada suatu kebutuhan psikologis tunggal yang hadir sepanjang hidup,
yaitu kebutuhan akan identitas yang mencakup suatu kebutuhan untuk merasakan
keunikan, keterpisahan, dan kesendirian.
Menurut terapi
realitas, akan sangat berguna apabila menganggap identitas dalam pengertian
“identitas keberhasilan” lawan “identitas kegagalan”. Dalam pembentukan
identitas, masing-masing dari kita mengembangkan keterlibatan-keterlibatan
dengan orang lain dan dengan bayangan diri, yang dengannya kita merasa relatif
berhasil atau tidak berhasil. Orang lain memainkan peranan yang berarti dalam
membantu kita menjelaskan dan memahami identitas kita sendiri. Cinta dan
penerimaan berkaitan langsung dengan pembentukan identitas.
Pandangan tentang
manusia mencakup pernyataan bahwa suatu “kekuatan pertumbuhan” mendorong kita
berusaha untuk mencapai suatu identitas keberhasilan. Terapi realitas tidak
berpijak pada filsafat deterministic tentang manusia, tetapi dorongan di atas
asumsi bahwa manusia adalah agen yang menentukan dirinya sendiri. Prinsip ini
menyiratkan bahwa masing-masing individu memikul tanggung jawab untuk menerima
konsekuensi-konsekuensi dari tingkah lakunya sendiri.
C. Konsep Kunci Kepribadian
Menurut terapi
realitas, ada lima macam kebutuhan pokok manusia, antara lain kepemilikan,
kekuasaan, kebebasan, ketergantungan, dan fisiologis. Dalam mencapai tujuan
hidup ini manusia diatur oleh adanya rambu-rambu, yaitu tanggung jawab,
realitas, dan benar.
Ada beberapa ciri yang
menentukan terapi realitas, yaitu sebagai berikut:
1) Terapi realitas menolak konsep tentang penyakit mental. Ia berasumsi bahwa
bentuk-bentuk gangguan tingkah laku yang spesifik adalah akibat dari
ketidakbertanggungjawaban. Pendekatan ini tidak berurusan dengan
diagnosis-diagnosis psikologis. Ia mempersamakan gangguan mental dengan tingkah
laku yang tidak bertanggung jawab dan kesehatan mental dengan tingkah laku yang
bertanggung jawab.
2) Terapi realitas menekankan kesadaran atas tingkah laku sekarang. Terapis
realitas juga tidak bergantung pada pemahaman untuk mengubah sikap-sikap,
tetapi menekankan bahwa perubahan sikap mengikuti perubahan tingkah laku.
3) Terapi realitas berfokus pada saat sekarang, bukan kepada masa lampau.
Karena masa lampau seseorang itu telah tetap dan tidak bisa diubah, maka yang
bisa diubah hanyalah saat sekarang dan masa yang akan datang.
4) Terapi realitas menekankan pertimbangan-pertimbangan nilai. Terapi realitas
menempatkan pokok kepentingannya pada peran klien dalam menilai kualitas
tingkah lakunya sendiri dalam menentukan apa yang membantu kegagalan yang
dialaminya. Terapi ini beranggapan bahwa perubahan mustahil terjadi tanpa
melihat pada tingkah laku dan membuat beberapa ketentuan mengenai sifat-sifat
konstruktif dan destruktifnya.
5) Terapi realitas tidak menekankan transferensi. Ia tidak memandang konsep
tradisional tentang transferensi sebagai hal yang penting. Ia memandang
transferensi sebagai suatu cara bagi terapis untuk tetap bersembunyi sebagai
pribadi. Terapi realitas mengimbau agar para terapis menempuh cara beradanya
yang sejati, yakin bahwa mereka menjadi diri sendiri, tidak memainkan peran
sebagai ayah atau ibu klien.
6) Terapi realitas menghapus hukuman. Glasser mengingatkan bahwa pemberian
hukuman guna mengubah tingkah laku tidak efektif, dan bahwa hukuman untuk
kegagalan melaksanakan rencana-rencana mengakibatkan perkuatan identitas
kegagalan pada klien dan perusakan hubungan terapeutik.
7) Terapi realitas menekankan tangung jawab yang didefinisikan sebagai
“kemampuan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan sendiri dan melakukannya dengan
cara tidak mengurangi kemampuan orang lain dalam memenuhi kebutuhann-kebutuhan
mereka.” Belajar tanggung jawab adalah proses seumur hidup.
D. Teknik Konseling
Terapi realitas bisa
ditandai sebagai terapi yang aktif secara verbal. Prosedur-prosedurnya
dilakukan pada kekuatan-kekuatan dan potensi-potensi klien yang dihubungkan
dengan tingkah lakunya sekarang dan usahanya untuk mencapai keberhasilan dalam
hidup. Dalam membantu klien untuk menciptakan identitas keberhasilan, terapis
bisa menggunakan beberapa teknik sebagai berikut:
1) Terlibat dalam permainan peran dengan klien;
2) Menggunakan humor;
3) Mengonfrontasikan klien dan menolak dalih apapun;
4) Membantu klien dalam merumuskan rencana-rencana yang spesifik bagi
tindakan;
5) Bertindak sebagai model dan guru;
6) Memasang batas-batas dan menyusun situasi terapi;
7) Menggunakan terapi “kejutan verbal” atau sarkasme yang layak untuk
mengonfrontasikan klien dengan tingkah lakunya yang tidak realistis;
8) Melibatkan diri dengan klien dalam upayanya mencari kehidupan yang lebih
efektif.
Terapi realitas tidak
memasukkan sejumlah teknik yang secara umum diterima oleh pendekatan-pendekatan
terapi lain. Para psikiater yang mempraktekkan terapi realitas tidak
menggunakan obat-obatan dan medikasi-medikasi konservatif, sebab medikasi
cenderung menyingkirkan tanggung jawab pribadi. Selain itu, para pempraktek
terapi realitas tidak menghabiskan waktunya untuk bertindak sebagai “detektif”
mencari alasan-alasan, terapi berusaha membangun kerja sama dengan para klien
untuk membantu mereka mencapai tujuan-tujuannya.
E. Peranan Konselor
Tugas dasar terapis
adalah melibatkan diri dengan klien dan kemudian membuatnya menghadapi
kenyataan. Glasser merasa bahwa ketika terapis menghadapi para klien, dia
memaksa mereka itu utuk memutuskan apakah mereka akan atau tidak akan menempuh
“jalan yang bertanggung jawab.” Terapis tidak membuat pertimbangan-pertimbangna
nilai dan putusan-putusan bagi para klien, sebab tindakan demikian akan
menyingkirkan tanggung jawab yang mereka miliki. Tugas terapis adalah bertindak
sebagai pembimbing yang membantu klien agar bisa menilai tingkah lakunya
sendiri secara realistis.
Peran yang harus
diemban oleh seorang konselor ialah sebagai modeling, konfrontator, director,
dan educator. Terapis diharapkan memberikan pujian apabila para klien bertindak
dengan cara bertanggung jawab dan menunjukkan ketidaksetujuan apabila mereka
tidak bertindak demikian.
Fungsi penting lainnya
dari terapis realitas adalah memasang batas-batas, mencakup batas-batas dalam
situasi terapeutik dan batas-batas yang ditempatkan oleh kehidupan pada
seseorang. Glasser dan Zunin menunjuk penyelenggaraan kontrak sebagai suatu
tipe pemasangan batas. Kontrak-kontrak yang sering menjadi bagian dari proses
terapi bisa mencakup pelaporan klien mengenai keberhasilan maupun kegagalannya
dalam pekerjaan di luar situasi terapi. Acap kali suatu kontrak menetapkan
suatu batas yang spesifik bagi lamanya terapi.
Karakteristik konselor realitas adalah sebagai
berikut:
1) Konselor
harus mengutamakan keseluruhan individual yang bertanggung jawab, yang dapat
memenuhi kebutuhannya.
2) Konselor
harus kuat, yakin, tidak pernah ”bijaksana”, dia harus mampu menahan tekanan
dari permintaan klien untuk simpati atau membenarkan perilakunya, tidak pernah
menerima alasan-alasan dari perilaku irrasional klien.
3) Konselor
harus hangat, sensitif terhadap kemampuan untuk memahami perilaku orang lain
Konselor harus dapat bertukar fikiran dengan klien tentang perjuangannya dapat melihat bahwa seluruh individu dapat melakukan secara bertangung jawab termasuk pada saat-saat yang sulit.
Konseling realitas pada dasarnya adalah proses rasional, hubungan konseling harus tetap hangat, memahami lingkungan. Konselor perlu meyakinkan klien bahwa kebahagiaannya bukan terletak pada proses konseling tetapi pada perilakunya dan keputusannya, dan klien adalah pihak yang paling bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.
Konselor harus dapat bertukar fikiran dengan klien tentang perjuangannya dapat melihat bahwa seluruh individu dapat melakukan secara bertangung jawab termasuk pada saat-saat yang sulit.
Konseling realitas pada dasarnya adalah proses rasional, hubungan konseling harus tetap hangat, memahami lingkungan. Konselor perlu meyakinkan klien bahwa kebahagiaannya bukan terletak pada proses konseling tetapi pada perilakunya dan keputusannya, dan klien adalah pihak yang paling bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.
F. Tujuan Terapi Realitas
Sama dengan kebanyakan
psikoterapi, tujuan umum terapi realitas adalah membantu seseorang untuk
mencapai otonomi. Pada dasarnya, otonomi adalah kematangan yang diperlukan bagi
kemampuan seseorang untuk mengganti dukungan lingkungan dengan dukungan
internal. Kemampuan ini meyiratkan bahwa orang-orang mampu bertanggung jawab
atas siapa mereka dan ingin menjadi apa mereka serta mengembangkan
rencana-rencana yang bertanggung jawab dan realistis guna mencapai
tujuan-tujuan mereka.
Glasser dan Zunin
sepakat bahwa terapis harus memiliki tujuan-tujuan tertentu bagi klien dalam
pikirannya. Akan tetapi, tujuan ini harus diungkapkan dari segi konsep tanggung
jawab individual dan dari segi tujuan-tujuan behavioral karena klien harus
menentukan tujuan-tujuan itu bagi dirinya sendiri. Mereka menekankan bahwa
kriteria psikoterapi yang berhasil sangat bergantung pada tujuan-tujuan yang
ditentukan oleh klien.
BAB III
PENUTUP
Simpulan
Berdasarkan pembahasan
pada bab sebelumnya, dapat disimpulkan beberapa hal berikut:
Terapi realitas adalah suatu sistem yang difokuskan pada
tingkah laku sekarang. Menurut terapi realitas, ada lima macam kebutuhan pokok
manusia, antara lain kepemilikan, kekuasaan, kebebasan, ketergantungan, dan
fisiologis. Dalam mencapai tujuan hidup ini manusia diatur oleh adanya
rambu-rambu, yaitu tanggung jawab, realitas, dan benar.
Ada beberapa ciri yang menentukan terapi realitas, yaitu
sebagai berikut.
1) Terapi realitas menolak konsep tentang penyakit mental. Ia berasumsi bahwa
bentuk-bentuk gangguan tingkah laku yang spesifik adalah akibat dari
ketidakbertanggungjawaban. Pendekatan ini tidak berurusan dengan
diagnosis-diagnosis psikologis. Ia mempersamakan gangguan mental dengan tingkah
laku yang tidak bertanggung jawab dan kesehatan mental dengan tingkah laku yang
bertanggung jawab.
2) Terapi realitas menekankan kesadaran atas tingkah laku sekarang. Terapis
realitas juga tidak bergantung pada pemahaman untuk mengubah sikap-sikap,
tetapi menekankan bahwa perubahan sikap mengikuti perubahan tingkah laku.
3) Terapi realitas berfokus pada saat sekarang, bukan kepada masa lampau.
Karena Karena masa lampau seseorang itu telah tetap dan tidak bisa diubah, maka
yang bisa diubah hanyalah saat sekarang dan masa yang akan datang.
4) Terapi realitas menekankan pertimbangan-pertimbangan nilai. Terapi realitas
menempatkan pokok kepentingannya pada peran klien dalam menilai kualitas
tingkah lakunya sendiri dalam menentukan apa yang membantu kegagalan yang
dialaminya. Terapi ini beranggapan bahwa perubahan mustahil terjadi tanpa
melihat pada tingkah laku dan membuat beberapa ketentuan mengenai sifat-sifat
konstruktif dan destruktifnya.
5) Terapi realitas tidak menekankan transferensi. Ia tidak memandang konsep
tradisional tentang transferensi sebagai hal yang penting. Ia memandang
transferensi sebagai suatu cara bagi terapis untuk tetap bersembunyi sebagai
pribadi. Terapi realitas mengimbau agar para terapis menempuh cara beradanya
yang sejati, yakin bahwa mereka menjadi diri sendiri, tidak memainkan peran
sebagai ayah atau ibu klien.
6) Terapi realitas menghapus hukuman. Glasser mengingatkan bahwa pemberian
hukuman guna mengubah tingkah laku tidak efektif, dan bahwa hukuman untuk
kegagalan melaksanakan rencana-rencana mengakibatkan perkuatan identitas
kegagalan pada klien dan perusakan hubungan terapeutik.
7) Terapi realitas menekankan tangung jawab yang didefinisikan sebagai
“kemampuan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan sendiri dan melakukannya dengan cara
tidak mengurangi kemampuan orang lain dalam memenuhi kebutuhann-kebutuhan
mereka.” Belajar tanggung jawab adalah proses seumur hidup.
Dalam membantu klien untuk menciptakan identitas
keberhasilan, terapis bisa menggunakan beberapa teknik sebagai berikut.
1) Terlibat dalam permainan peran dengan klien;
2) Menggunakan humor;
3) Mengonfrontasikan klien dan menolak dalih apapun;
4) Membantu klien dalam merumuskan rencana-rencana yang spesifik bagi
tindakan;
5) Bertindak sebagai model dan guru;
6) Memasang batas-batas dan menyusun situasi terapi;
7) Menggunakan terapi “kejutan verbal” atau sarkasme yang layak untuk
mengonfrontasikan klien dengan tingkah lakunya yang tidak realistis;
8) Melibatkan diri dengan klien dalam upayanya mencari kehidupan yang lebih
efektif.
Peran seorang konselor dalam terapi realitas antara lain
sebagai modeling, konfrontator, director, dan educator. Secara singkat tujuan
dari terapi realitas ialah untuk membantu seseorang mencapai fully function
thinking.
DAFTAR PUSTAKA
Corey, Gerald. Teori Dan Praktek
Konseling & Psikoterapi. 2010. Jakarta: Refika Aditama
Pujosuwartno, Sayekti. 1997. Berbagai
Pendekatan Dalam konseling. Yogyakarta :Menara mas Offset.
No comments:
Post a Comment